KONTAK KAMI | Butuh bantuan? Klik disini!
  • Hotline - 081317414739
  • SMS - 081317414739
  • Whatsapp - 081 317 414 739
  • hjkarpet@gmail.com
Beranda » Artikel Terbaru » Sejarah Masjid Tegalsari Ponorogo

Sejarah Masjid Tegalsari Ponorogo

Diposting pada 6 Juli 2017 oleh achmad prayitno

ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari, yaitu sebuah desa terpencil yang kurang ke arah selatan menuju Ponorogo. Di tepian dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Besari membangun sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari .

Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun pada ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena banyaknya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga ada di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), desa Bantengan, dan lain-lain.

Jumlah santri yang sangat besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini. Alumni Pondok ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa untuk bangsa indonesia. Di antara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, negarawan, pengusaha, dll. Sekadar menyebut sebagai contoh adalah Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden Ngabehi Ronggowarsito (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; Dan tokoh Pergerakan Nasional HOS Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934).

Dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Paku Buana II nyantri di Pondok Tegalsari . Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura Terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi Susuhuhan Kuning, seorang Sunan keturunan Tionghoa. Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Paku Buana II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam kiri Keraton menuju ke timur Gunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Di tengah suka dan kejujuran pasukan Sunan Kuning nanti Paku Buana II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari. Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri dari Kyai wara` itu;

Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa juga berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah swt mengabulkan doa Paku Buana II. Api pemberontakan akhirnya reda. Paku Buana II kembali duduk tahtanya. Sebagai balas budi, Sunan Paku Buana II mengambil Kyai Hasan Besari menjadi menantunya. Sejak itu nama Kyai yang alim ini dikenal dengan sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari). Sejak itu pula desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala hal bayar kepada kerajaan.

Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh yang bernama Kyai Hasan Yahya. Setijia Kyai Hasan Yahya digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Bashari II yang kemudian digantikan oleh Kyai Hasan Anom. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi, dari pengasuh satu ke pengasuh lain. Tapi, pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi terakhir keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut.

Alkisah, pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, ada seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang. Maka setelah santri Sulaiman Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercayai Kyai untuk melakukan pesantren saat dia berhalangan. Bahkan bernyanyi Kyai akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk membentuk pesantren sendiri di desa Gontor.

Masjid ini merupakan masjid yang paling ramai dikunjungi para peziarah dan para jamaah pada saat malam-malam tertentu malam malam, malam lailatul qodr, malam-malam pada bulan Ramadhan, malam-malam ujian semester dan ujian nasional, malam nisfu sya’ban dan Malam-malam yang butuh bermustajab untuk berdoa bagi umat muslim. Dari depan masjid ini terlihat biasa saja, bahkan lebih sederhana jauh dari Masjid Agung Ponorogo. Namun kita bisa duduk di dalam masjid dengan selalu mengucap kalam ilahi, maka hati kita akan terasa sangat sejuk, inilah kelebihan Masjid Tegalsari.

Bagikan informasi tentang Sejarah Masjid Tegalsari Ponorogo kepada teman atau kerabat Anda.

Sejarah Masjid Tegalsari Ponorogo | KARPETMASJID.CO.ID

Komentar dinonaktifkan: Sejarah Masjid Tegalsari Ponorogo

Maaf, form komentar dinonaktifkan.

Temukan Kami

Hubungi Kami

KARPETMASJID.CO.ID

Marrakash Square Blok B5 No. 8-9,
Pondok Ungu Permai, Babelan
Bekasi Utara, Jawa Barat

E-mail : info@karpetmasjid.co.id

Telp./Fax : 021-889 747 33

Marketing : 0812-85-494-494

Facebook

Unable to display Facebook posts.
Show error

Error: Error validating application. Application has been deleted.
Type: OAuthException
Code: 190
Please refer to our Error Message Reference.

Portofolio

Kontak