KONTAK KAMI | Butuh bantuan? Klik disini!
  • Hotline - 081317414739
  • SMS - 081317414739
  • Whatsapp - 081 317 414 739
  • hjkarpet@gmail.com
Beranda » Artikel Terbaru » Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo

Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo

Diposting pada 30 Maret 2017 oleh elu_kasep

Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo

Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo

Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo

Perkembangan Islam di Kota Solo tak lepas dari sosok Ki Ageng Henis dan Raja Kerajaan Pajang Sultan Hadiwijoyo. Ki Ageng Henis yang merupakan penasihat spiritual kerajaan, mendirikan Masjid Laweyan, masjid tertua di Solo.

Sepintas, Masjid Laweyan yang terletak di Jalan Liris Nomor 1, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo, terlihat tak jauh berbeda dengan tempat ibadah umat Islam lainnya.

BERITA REKOMENDASI
Rayakan Milad, Masjid Istiqlal Akan Dijadikan Simbol Islam Indonesia
Pembangunan Masjid Raya Sumbar Telan Biaya Rp253 Miliar
Shah Cheragh, Masjid Syiah Iran Berarsitektur Islam Termegah
Namun, bagi yang belum tahu sejarahnya, mungkin akan tercengang ketika memasuki halaman masjid. Sebab, di salah satu sudutnya ada keterangan yang menyebutkan bahwa masjid itu merupakan salah satu bangunan cagar budaya.

Masjid Laweyan dibangun pada 1546. Di dekat masjid terdapat makam Ki Ageng Henis. Ki Ageng Henis dan Sultan Hadiwijaya atau Sultan Hadiwijoyo merupakan saudara sekaligus sahabat.

Ki Ageng Henis adalah anak dari Ki Ageng Selo dan Sultan Hadiwijoyo adalah anak dari Ki Kebo Kenongo. Ki Ageng Selo dan Ki Kebo Kenongo masih memiliki hubungan saudara yang cukup dekat dan masih trah dari Raja Brawijaya V.

Sebelum menjadi kerajaan, Pajang masih berbentuk kabupaten di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Kala itu, Hadiwijoyo bernama Joko Tingkir atau Mas Karebet menjadi menantu Sultan Trenggono yang memimpin Kerajaan Demak.

Ketika muda, Joko Tingkir menjadi murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Penunjukan Mas Karebet atau Joko Tingkir menjadi bupati Pajang bukan tanpa alasan.

“Salah satunya adalah Kabupaten Pajang sebagai penyaring jika ada serangan musuh dari wilayah timur sebelum sampai ke Kerajaan Demak,” kata Adiyanto (62), juru kunci makam Ki Ageng Henis.

Pria yang telah 30 tahun menjadi juru kunci makam Ki Ageng Henis ini mengatakan, seusai kepemimpinan Sultan Trenggono, Pemerintahan Kerajaan Demak dipindah ke Pajang yang kemudian menjadi kerajaan.

Joko Tingkir kemudian naik takhta dengan gelar Sultan Hadiwijoyo. Sedangkan Ki Ageng Henis diangkat menjadi patih di Pajang.

Masjid yang dibangun Ki Ageng Henis dahulu merupakan sebuah pura. Saat itu, konon bentuknya masih musala. Fungsinya kala itu bukan hanya sebagai tempat ibadah, namun juga menjadi pusat perkembangan Islam, tempat musyawarah dan perundingan.

Di depan masjid terdapat Sungai Jenes yang dahulu menjadi urat nadi perekonomian Kerajaan Pajang. Sungai Jenes yang bermuara di Sungai Bengawan Solo konon menjadi sarana transportasi perdagangan.

Bahkan, konon ada bandar yang menjadi tempat tambatan perahu yang diberi nama Bandar Banaran. Sementara, Kampung Batik Laweyan yang kini ada, dahulu merupakan ladang yang ditanami kapas.

Nama Laweyan, menurut Adiyanto, berasal dari kata Lawe, yaitu kapas yang dipintal menjadi benang untuk bahan pakaian. Lokasi itu kemudian makin berkembang menjadi tempat tinggal para bangsawan dan juragan kain.

Ki Ageng Henis memiliki anak bernama Ki Ageng Pemanahan dan cucu bernama Sutowijoyo. Sedangkan Sultan Hadiwijoyo memiliki anak Raden Benowo. Namun, Raden Benowo enggan meneruskan takhta ayahnya dan selanjutnya ditunjuk Sutowijoyo.

Pemerintahan pun dipindah ke Alas Mentaok, Kotagede, Yogyakarta dan berdirilah Kerajaan Mataram. Sutowijoyo naik takhta menjadi raja Mataram bergelar Panembahan Senopati.

Masjid Laweyan merupakan bukti sejarah perkembangan Islam di Solo pada masa Kerajaan Pajang. Islam berkembang cukup pesat karena dakwah yang dilakukan Ki Ageng Henis secara santun dan lemah lembut mampu mengikat hati masyarakat pada masa itu.

Hal itu ditambah kemampuan Sultan Hadiwijoyo yang konon memiliki banyak kesaktian sehingga siapa pun menjadi segan.

Masjid Laweyan dalam perkembangannya pernah dipugar semasa Raja Keraton Kasunanan Surakarta Pakubuwono (PB) X. Masjid juga diberi mimbar untuk khotbah yang bentuknya seperti kereta.

“Mimbar ini pun sampai kini masih ada tetap dipakai untuk tempat khotbah,” ungkap Rafik, salah satu pengurus Masjid Laweyan.

Selain itu, ada juga beduk dan kentongan yang usianya ratusan tahun. Sisa bangunan yang usianya tua adalah 12 tiang utama masjid yang terbuat dari kayu jati.

Meski fungsinya kini hanya menjadi tempat ibadah, Masjid Laweyan tetap memiliki daya tarik tersendiri. Banyak orang singgah ketika akan berziarah ke makam Ki Ageng Henis. Termasuk juga para peneliti yang ingin meneliti sejarah Masjid Laweyan.

Bagikan informasi tentang Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo kepada teman atau kerabat Anda.

Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo | KARPETMASJID.CO.ID

Komentar dinonaktifkan: Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo

Maaf, form komentar dinonaktifkan.

Temukan Kami

Facebook

Unable to display Facebook posts.
Show error

Error: (#10) This endpoint requires the 'manage_pages' or 'pages_read_engagement' permission or the 'Page Public Content Access' feature. Refer to https://developers.facebook.com/docs/apps/review/login-permissions#manage-pages and https://developers.facebook.com/docs/apps/review/feature#reference-PAGES_ACCESS for details.
Type: OAuthException
Code: 10
Please refer to our Error Message Reference.

Portofolio

Kontak