KONTAK KAMI | Butuh bantuan? Klik disini!
  • Hotline - 081317414739
  • SMS - 081317414739
  • Whatsapp - 081 317 414 739
  • hjkarpet@gmail.com
Beranda » Artikel Terbaru » Sejarah Turunnya Al-Qur’an

Sejarah Turunnya Al-Qur’an

Diposting pada 18 Maret 2022 oleh Ahmad Fairuz

Sejarah Al-Qur’an. – Dengan mempelajari al-Qur’an, akan menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan, memperluas wawasan dan pandangan, menemukan perspektif dan paradigma baru, serta menemukan hal-hal yang baru pula. Lebih dalam lagi mempelajari kandungan al-Qur’an dapat mendorong lebih meyakini kebenaran dan keunikan kandungannya, ini semua menunjukkan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Perkasa atas segala ciptaan-Nya.

Al Qur’an memiliki keunikan/kekhasan dalam penyampaian pesan-pesan yang dikandungnya semenjak awal diturunkannya al Qu’an sampai ayat terakhir turun. Apabila dikaji lebih dalam, akan ditemukan dua pendekatan dengan diturunkan ayat-ayat al Qur’an secara bertahap.


—- SEJARAH AL-QUR’AN —-

Al-Qur'an

Dalam surat al-Baqarah [2]: 185, bahwa dengan diturunkan al-Qur’an pertama kali pada bulan Ramadhan berisi tentang petunjuk bagi umat manusia, serta penjelasan tentang petunjuk tersebut.

Di dalamnya terkandung pula kriteria atau tolok ukur yang membedakan segala sesuatu. Ayat ini sebenarnya mengandung tiga komponen.

  • pertama, bahwa al-Qur’an sebuah kitab yang berisikan petunjuk, pedoman atau pimpinan, disebut huda-n.
  • kedua, al-Qur’an memberikan penjelasan atau bayan mengenai petunjuk itu.
  • ketiga, petunjuk itu sekaligus merupakan kriteria atau tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang buruk dan yang baik.

KUTIPAN

Sesungguhnya al-Qur’an itu memberi petunjuk menunjukkan jalan yang sebaik-baiknya. (QS.[17]: 9). Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan aqidah, syari’ah, dan akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut, dan Allah menugaskan Rasul Muhammad SAW untuk memberikan keterangan yang lebih lengkap mengenai dasar-dasar itu.Tertera dalam al-Qur’an. (QS.[16]:14): Kami telah turunkan kepadamu adz-Dzikr (al-Qur’an) untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka, agar mereka berpikir (QS.[16]:44).

// Masa Turunnya Al-Qur’an \\

Al-Qur’an yang diturunkan dalam masa 23 tahun, atau tepatnya, dua puluh dua tahun dua bulan dua puluh dua hari, yang terdiri dari 114 surat, 30 juz, dan susunannya ditentukan oleh Allah dengan cara tawqifi, tidak mengggunakan metode-metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan pasal pasal.

Metode ini tidak terdapat di dalam al-Qur’an, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih berganti diterangkan. Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia menyangkut tuntunan yang berkaitan dengan aqidah, dan penjelasan mengenai petunjuk itu dalam hal rincian syariat. Dengan diturunkannya al-Qur’an pada bulan ramadhan, mengisyaratkan bahwa sangat dianjurkan untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an selama bulan ramadhan, dan yang mempelajarinya diharapkan memperoleh petunjuk serta memahami dan menerapkannya penjelasan-penjelasannya.

Karena dengan membaca al-Qur’an ketika itu bahwa yang bersangkutan menyiapkan wadah hatinya untuk menerima petunjuk Ilahi. Bahkan jiwanya akan semakin cerah, pikirannya begitu jernih, sehingga ia akan memperoleh kemampuan untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Bila dilihat dari rentang sejarah pewahyuan Al-Qur’an, bahwa dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun, kitab Suci al-Qur’an diturunkan secara bertahap untuk memenuhi tuntunan situasi dan lingkungan yang ada.

Baca Juga: 5 Masjid Terbesar di Dunia, Istiqlal Urutan Keberapa?

// Proses Turunnya Al-Qur’an \\

Ibn Abbas (w. 68 H), seorang ilmuwan terkemuka di antara sahabat rasul mempertegas bahwa al-Qur’an diturunkan ke langit terbawah (bait al-“izzah) dalam satu malam yang kemudian diturunkan secara bertahap sesuai dengan keperluan. Penerimaan wahyu al-Qur’an di luar jangkauan penalaran akal manusia.

Selama empat belas abad yang silam tak ada seorang rasul yang muncul. Dalam memahami fenomena wahyu kita semata-mata merujuk pada laporan authentric dari Nabi Nuhammad Saw dan orang-orang kepercayaan yang menyaksikan kehidupan beliau.

Riwayat ini mungkin dapat dipakai sebagai cermin tentang apa yang dialami oleh nabi-nabi sebelumnya. Mengingat antara nabi dengan nabi berikutnya pada zaman sebelum Nabi Muhammad ada jeda waktu yang pendek. Namun ada jeda waktu yang cukup lama sekali dalam menerima wahyu dari Allah SWT.

Fenomena penerimaan wahyu ini mengejutkan banyak pihak. Ini dapat dilihat dari peranan Nabi Muhammad yang dipersiapkan secara bertahap. Suatu masa yang penuh dengan kebimbangan dalam melihat berbagai kejadian, fenomena, dan visi pandangan yang ada juga ikut bagian dalam mempersiapkan kematangan jiwanya, di mana malaikat Jibril berulang kali memperkenalkan diri.

Malaikat Jibril untuk yang pertama kali memperkenalkan diri ketika beliau berkhalwat di Gua Hira. Jibril meminta Muhammad Saw membaca, dan beliau mengatahan tidak tahu, tidak tahu apa yang akan dibaca. Sampai malaikat Jibril mengulangi tiga kali, dan beliau menjawab dalam keadaan serba bingung dengan penuh ketakutan sebelum mengetahui kenabian yang tak terduga dan baru pertama kali mendengar al Qur’an.

// Keterkaguman Nabi Muhammad SAW \\

Melihat fenomena yang belum pernah dialami ini. Nabi Muhammad kembali dalam keadaan gemetar ketika menemui istrinya Khadijah, minta untuk menghibur dan mengembalikan ketentraman jiwanya. Sebagai seorang Arab, sebenarnya Muhammad paham akan ekspresi syair dan prosa. Akan tetapi tak terlintas diotak beliau sama sekali tentang ayat-ayat wahyu al-Qur’an yang baru saja beliau terima.

Sesuatu yang tak pernah terdengar sebelumnya serta susunan kata-kata yang tiada bandingannya. Dimana al-Qur’an sebagai mu’jizat terbesar yang pertama beliau terima. Pada kisah lain, Nabi Musa As diberi mu’jizat, berupa sinar cahaya memancar dari tangan, tongkat berubah menjadi ular raksasa sebagai tanda kenabiannya.

Sangat berbeda dengan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad Saw ketika menerima ketika berada dalam di Gua Hira. dengan hidup seorang diri dalam gunung tersebut. Melainkan ungkapan kata-kata ajaib yang belum pernah terdengar dan terlintas di telinga siapapun dan di manapun.

Namun sebagaimana yang Allah kehendaki. Tiba-tiba seorang penggembala kambing yang buta huruf diberi tugas yang sangat mulia. Untuk menerima, mengajar, dan menyebarkan wahyu hingga berakhirnya sejarah kenabian, sebagai nabi dan Rasul terakhir, nabi penyempurna seluruh nabi dan rasul yang diutus oleh Allah SWT.

Dengan demikian, apa yang Nabi Muhammad terima berupa wahyu al-Qur’an dalam berbagai peristiwa. Dalam kurun waktu kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dengan perjuangan yang tidak mengenal lelah untuk mengajak, mengajar dan menyebarkan ajaran Islam.

Baca Juga:  Hewan yang Haram Dipelihara Menurut Islam


—- ASBABUN NUZUL  AL-QUR’AN —-

Al-Qur'an

Keberadaan al-Qur’an, tidak bisa terlepas dari sejarah turunnya wahyu. Ini menunjukan bahwa apa-apa yang ada dalam al-Qur’an, mempunyai latar belakang atau alasan kenapa al-Qur’an itu diturunkan, tentu mempunyai sebab.

Oleh karena itu ayat al-Qur’an turun mempunyai sejumlah kronologis yang harus diketahui secara detail. Agar dalam memaknai ayat tidak sepotong-sepotong, dan harus sesuai dengan kondisi suatu masyarakat di mana komunitas itu tinggal. Sehingga dalam pemaknaan tidak akan bertentangan dengan apa yang termaktub dalam kitab suci al-Qur’an, semua persoalan harus merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.

Sejarah Islam mencatat, jejak risalah Nabi Muhammad SAW, sifat dan kaitannya dengan ajaran nabi terdahulu. Allah menciptakan umat manusia dengan maksud dan tujuan untuk menghambakan diri kepada-Nya. Meski Ia tidak memerlukan seseorang agar menyembah karena tidak akan menambah arti kekuasaan-Nya.

Tata cara penyembahan tidak serta merta diserahkan secara individu, akan tetapi secara eksplisit diterangkan oleh para nabi dan rasul-Nya. Semua nabi dan rasul menerima tugas dari Allah yang sama, inti risalah tetap sama, hanya beberapa penjelasan praktis yang mengalami perubahan.

Nabi Nuh (Noah), Ibrahim (Abraham), Isma’il (Ishamel), Ya’cub (Jacub), Ishaq (Isaac), Yusuf (Joseph), Dawud (David), Sulaiman (Salomon) “Isa (Jesus) dan banyak lagi yang tidak terhitung, Allah mengutus dengan risalah yang ditujukan kepada masyarakat tertentu dan berlaku pada masa tertentu pula.

Namun dalam perjalanannya mungkin saja terjadi penyimpangan yang membuat pengikutnya berbelok arah dengan menyembah berhala, percaya pada klenik, dan khurafat dan upaya melakukan pemalsuan. Kehadiran Nabi Muhammad SAW, dengan risalah yang tidak tersekat dalam batas kebangsan dan waktu. Suatu kepercayaan yang tidak akan mungkin dihapus karena kesemuanya untuk kepentingan umat manusia sepanjang zaman.

Baca Juga: Amalan Dibulan Sya’ban Menurut Pandangan Ulama dan Ahli Hadist

// Mekanisme Turunnya Wahyu \\

Adapun mekanisme turunnya wahyu, tidak selalu sama, akan tetapi melalui beraneka ragam Rasulullah cara menerimanya, Menurut M. M. Al A’zami diantara peristiwa tersebut:

Pertama, dengan bunyi lonceng, ketika sahabat Al Harith bin Hisham bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu itu sampai padamu? Beliau menjawab kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu yang paling dahsyat yang sampai pada saya. Kemudian lenyap dan saya dapat mengulangi apa yang dikatakan. Kadang-kadang Malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata padaku dan saya dapat memahami apa yang dikatakan Aisyah menuturkan. Sungguh aku pernah melihat Nabi saat wahytu turun kepadanya di mana pada hari itu beliau merasa kedinginan sebelum wahyu berhenti dan dahinya penuh keringat.

Kedua, Ya’la pernah sekali bercerita pada Umar tentang keinginan melihat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu. Pada kesempatan lain Umar memanggil dan ia menyaksikan Nabi Muhammad wajahnya kemerah-merahan, bernafas sambil ngos-ngosan. Lalu tampak sembuh dari gejala itu.

Ketiga, Zaid bin Tsabit menjelaskan, Ibn Um-Maktum mendatangi Nabi Muhammad. saat beliau mendektekan ayat ini: la yastawil qaiduna minal mukminin, tak akan sama di antara orang-orang beriman yang duduk (tanpa kerja). Saat mendengar ayat tersebut Ibn Um-Maktum berkata, Oh Nabi Allah, adakah berarti saya mesti ikut ke medan perang (jihad). Dia seorang yang buta. Kemudian Allah mewahyukan (ayat peringatan) kepada Nabi SAW saat kakinya berada di atas kakiku, begitu beratnya dan saya khawatir kakiku terasa akan putus.

// Hikmat Diturunkannya Al-Qur’an \\

Implikasinya dari sejarah turunnya al-Qur’an akan terlihat jejak risalah Nabi SAW, sifat dan kaitannya dengan ajaran para nabi terdahulu. Allah swt.menciptakan umat manusia dengan satu tujuan agar menghambakan diri kepada-Nya, meski la tidak memerlukan seseorang agar menyembah karena tidak akan menambah arti kebesaran-Nya.

Tata cara penyembahan tidak diserahkan pada individu, namun secara eksplisit dijelaskan oleh para nabi dan rasul-Nya. Melihat bahwa semua rasul menerima tugas dari Pencipta yang sama, inti risalah tetap sama saja, hanya beberapa penjelasan praktis yang mengalami perubahan.

Kehadiran Nabi Nuh (Noah), Ibrahim (Abraham), Isma’il (Ishamel), Ya’cub (Jacob), Ishaq (Isaac), Yusuf (Joseph), Dawud (David), Sulaiman (Solomon), “Isa (Jesus),dan banyak lagi yang tak terhitung. Allah mengutus dengan risalah yang ditujukan kepada masyarakat tertentu dan berlaku pada masa tertentu pula.

Islam menganggap kaum Yahudi dan Nasrani sebagai “ahli kitab”. Ketiga agama ini memiliki kesamaan asal usul keluarga dan secara hipotesis menyembah tuhan yang sama. Seperti dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan kedua putranya, Isma’il dan Ishaq. Berbicara masalah agama, tentu kita dihadapkan pada peristilahan yang umum kendati kata-kata itu tampak mirip, bisa jadi memiliki implikasi yang berlainan.

Misalnya, Kitab suci al-Qur’an menjelaskan secara rinci bahwa segala sesuatu di alam ini diciptakan untuk satu tujuan agar menyembah Allah. Tetapi dalam mitologi Yahudi semua alam ini diciptakan untuk menghidupi anak cucu bani Israel saja.

Sementara, konsep trinitas dalam agama Kristen dengan anggapan Jesus seperti terlihat dalam gambaran ajaran gereja. Hal tersebut sama sekali bertentangan dengan keesaan Allah dalam ajaran Islam. Kita akan ketahui bahwa sifat Islam dan kedua agama itu yang mengalami pencemaran dari konsep monoteisme. Dan akan kita jelaskan bahwa Allah Swt. menentukan ajaran ideal untuk seluruh alam raya dalam bentuk wahyu terakhir, yakni al-Qur’an.

Cek artikel terbaru dan menarik lainnya disini.

Bagikan informasi tentang Sejarah Turunnya Al-Qur’an kepada teman atau kerabat Anda.

Sejarah Turunnya Al-Qur’an | KARPETMASJID.CO.ID

Komentar dinonaktifkan: Sejarah Turunnya Al-Qur’an

Maaf, form komentar dinonaktifkan.

Temukan Kami

Facebook

Unable to display Facebook posts.
Show error

Error: API access disrupted. Go to the App Dashboard and complete Data Use Checkup.
Type: OAuthException
Code: 200
Please refer to our Error Message Reference.

Portofolio

Kontak